Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

MALAS

Kita perlu mendefinisikan malas. Menurut saya, melakukan lebih sedikit aktivitas yang tidak penting agar bisa fokus pada hal-hal penting itu tidak termasuk malas.

Jadi, apa itu malas? Malas adalah orang yang bekerja di bidang yang tidak disukai tanpa pernah sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan pekerjaan yang dicintai. Dia pergi berkerja tetapi hatinya tersiksa. Dia melakukan pekerjaannya dengan terpaksa.

Jumat, 10 Februari 2012

Pencipta Nilai

by. Jamil Azzaini

Anda ingin kaya? Saya yakin sebagian besar Anda menjawab: Ya. Sekarang coba Anda tuliskan 5 alasan mengapa Anda harus kaya? Atau paling tidak coba ucapkan secara jelas 5 alasan mengapa Anda harus kaya? Agar mendapat manfaat dari tulisan ini, jangan lanjutkan membaca sebelum Anda menjawab pertanyaan tadi.

Oke, sudah dijawab? Berapa banyak jawaban Anda? Kurang dari 5, persis 5 atau lebih dari 5 alasan? Menurut mentor bisnis saya, jawaban Anda mencerminkan pikiran dan tindakan Anda selama ini. Bila Anda menjawab kurang dari 5, itu berarti Anda tipe pengurang nilai. Selalu melakukan pekerjaan di bawah standar atau kewajiban yang diminta.

Kamis, 12 Januari 2012

Anakmu Perkataanmu

Ada orang tua datang kepada saya dan mengatakan, “Pak anak saya bandel, malas, suka iseng, tidak mau belajar, tidak mau mengaji, bagaimana ya, pak?” Saya tanya balik, “Sejak kapan dia begitu?” Ibu itu menjawab, “Sejak usia lima tahun, pak.” Maka saya langsung berkata, “Nah, berarti sebelumnya dia tidak begitu kan? Kira-kira apa yang membuatnya berubah? Mengapa setelah usianya tujuh tahun malah jadi seperti yang ibu katakan?”

Sangat disayangkan, banyak orang tua yang memberikan “stempel” negatif kepada anaknya. Parahnya lagi “stempel” itu diucapkan dan disebarluaskan ke banyak orang. Ketahuilah, tanpa Anda sadari anak Anda akan menjadi seperti apa yang Anda katakan. Ketika Anda seriang berkata malas kepada anak, otak bawah sadar anak Anda akan terstimuli untuk menjadi malas.

Senin, 09 Januari 2012

Siapa yang Menilai Perbuatan Anda?

by. Jamil Azzaini

Bagaimana menurut Anda, berbohong itu baik atau tidak? Bagi yang menjawab “tidak”; bagaimana jika Anda menjadi tentara kemudian ikut berperang dan tertangkap? Lalu, tentara musuh bertanya kepada Anda, dimana pasukan Anda? Bila waktu itu Anda menjawab bohong, baik atau tidak?

Lho sama-sama bohong tapi mengapa terkadang baik dan terkadang buruk. Tidak konsisten. Ya, ternyata perbuatan itu pada hakikatnya tidak punya nilai. Siapa yang menentukan nilai? Yang menentukan adalah faktor dari luar perbuatan itu.

Nah, faktor diluar perbuatan itu banyak. Ada hawa nafsu, adat istiadat, norma di masyarakat, aturan negara, hukum internasional dan juga hukum agama. Contohnya, melakukan hubungan suami istri tapi belum menikah menurut hawa nafsu itu baik, menurut kebiasaan orang Barat itu juga biasa.  Akan tetapi, menurut norma masyarakat Indonesia secara umum perbuatan tersebut buruk.  Sedangkan menurut agama Islam itu dosa besar dan amat buruk.

Lantas bagaimana agar kita tidak bingung? Bukankah hawa nafsu manusia berbeda-beda? Bukankah norma dan adat istiadat manusia tidak sama?  Bukankan aturan negara terkadang di buat karena ada kepentingan politik tertentu?

Menurut saya, pilihan yang paling tepat adalah jadikan faktor penilai baik dan buruknya suatu perbuatan adalah agama (ketentuan-Nya).  Mengapa? Karena aturan itu datang dari Sang Maha Pencipta yang tahu persis bagaimana seharusnya kita menjalankan kehidupan di dunia. Kedua, bila kita mengikuti aturan agama, maka kehidupan di dunia kita terjaga dan di akhirat mendapat balasan di surga.

Teruslah pelajari bagaimana Dia mengatur kehidupan kita. Pahami, hayati dan kemudian amalkan dalam kehidupan nyata. Agama bukan hanya di tempat ibadah. Agama bukan hanya ada saat kelahiran, pernikahan dan kematian. Agamapun bukan hanya hadir di bulan-bulan tertentu. Agama ada di setiap tarikan dan hembusan nafas dalam kehidupan kita.

Saya yakin, Anda pasti ingin bahagia di dunia dan juga setelah kehidupan dunia. Orang yang cerdas pasti tidak mengabaikan kehidupan abadi, kehidupan setelah dunia. Dan kehidupan terbaik dan abadi itu bisa kita nikmati bila agama selalu menyatu dalam semua aspek perbuatan kita.

Salam SuksesMulia!

Rabu, 21 Desember 2011

Berubah atau Menjadi Barang Rongsokan

by. Jamil Azzaini

1.  Hidup artinya berubah, berubah artinya menjadi dewasa, yang artinya membentuk diri tiada akhir (Henry Bergson)

Tafsirku: Tahun 2011 sebentar lagi berakhir. Cobalah duduk sejenak kemudian renungkan apa perubahan dalam hidup Anda yang sudah terjadi. Bandingkanlah kehidupan Anda dengan awal 2011. Apa perubahan-perubahan yang sudah Anda lakukan?

Waspadalah bila kehidupan Anda sama dengan awal tahun. Itu pertanda Anda tidak berubah dan bertumbuh. Ingatlah, setiap yang tidak berubah pada hakikatnya sudah menjadi barang rongsokan yang tidak laku.

Sebagai contoh, mungkin sebagian Anda mengenal pager, sebuah alat komunikasi satu arah khusus untuk menerima pesan secara mobile. Pager pernah sangat populer. Tapi sekarang produk itu sudah tak ada, sudah menjadi barang rongsokan, perannya sudah digantikan oleh hand phone yang bisa menjalin komunikasi mobile dua arah.

2. Hidup paling berat saat kita tidak memiliki beban apa-apa yang perlu kita pikul (Paul C. Mason)

Tafsirku: Banyak orang yang menghindar ketika ada tantangan baru. Mereka takut beban hidupnya bertambah bila mengambil tantangan itu. Mereka menganggap menghindari tugas dan tantangan baru itu akan meringankan hidup.

Padahal, bila Anda sering menghindar dari pekerjaan-pekerjaan yang menantang kehidupan Anda justeru akan semakin berat. Mengapa? Karena orang lain bertumbuh mampu mengikuti perkembangan zaman, sementara Anda diam di tempat. Anda tertinggal tetapi Anda tak sadar.

Ayo berkomitmenlah pada tahun 2012 melakukan banyak perubahan. Bersedia belajar hal-hal yang baru. Rela menginvestasikan dana untuk meningkatkan kualitas diri dan keahlian. Berani mengambil pekerjaan-pekerjaan yang menantang.

Bila Anda tak mau berubah, nasib Anda akan sama dengan pager atau produk-produk lain yang tak mau berubah. Anda akan menjadi barang rongsokan yang bernilai rendah dan dicampakkan di tempat sampah.
Ciri hidup itu adalah berubah dan bertumbuh. Jadi bila Anda hanya diam dan tak berubah, sesungguhnya Anda telah mati…

Rabu, 14 Desember 2011

Suara Hati Seorang Ibu

Sahabat, ini adalah petikan suara hati seorang umi. Umi adalah nama lain dari ibu.  Taukah sahabat? mungkin suara hati ini tidak cuman suara hati perseorangan, namun mungkin ini juga merupakan suara hati ibu kita. Ibu dari ibu-ibu yang ada di permukaan bumi ini. Selamat menyimak.


Anakku yang ku kasihi…
Tanpa disadari oleh kita masa berlalu terlalu cepat dan kau yang ketika dulu masih kecil, manja dalam pelukan umi, kini telah menjadi gadis remaja dan telah mula belajar arti kehidupan. Zaman yang kau lalui dan alami kini adalah zaman yang penuh pancaroba, penuh dugaan dan cobaan. Cobaan yang sering mengganggu iman dan hatimu, perasaan dan nafsumu, kewibawaan dan tugas-tugasmu. Ketika inilah kau, kau ingin merasakan semua keadaan, semua kenikmatan hidup. Kau ingin menjadi manusia yang dipuja dan disanjung banyak orang.Kau ingin disayangi dan menyayangi.



Anakku sayang,
Jika tiada iman, niscaya lunturlah segala kekuatan, hancurlah segala kebaikan. Oleh itu, umi berpesan agar engkau berhati-hati dalam berfikir dan bertindak, batasilah kehendakmu dengan rasa takut pada Allah karena tidak ada orang yang tidak dicatat amal dosanya, tidak ada orang yang dikecualikan, termasuk kau. Pernah seorang soleh berkata,”seorang remaja jika dapat melalui cobaan hidupnya dengan baik, tenang dan penuh kebaikan, mampu menolak kehendak-kehendak nafsu, maka percayalah dia manusia yang paling sukses selama hidupnya. Manakala seorang pemuda yang gagal menggunakan masa remajanya untuk mencari kebaikan, rugilah ia dan celakalah hidupnya esok dan yang akan datang”.

Kamis, 08 Desember 2011

Keluarlah...

by. Jamil Azzaini

Saya ingin bercerita sedikit tentang kutu anjing atau pinjal. Dia ini binatang yang hebat karena bisa melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Tentunya itu jauh lebih tinggi daripada kemampuan melompat anjing, “induk semang” tempat dimana ia menumpang hidup.

Suatu saat anak pinjal bertanya kepada ibunya, “Mama, anjing itu seperti apa, ya?” Sang ibu menjawab, “Kita sekarang sedang berada di atasnya, nak..”

“Lho, kok saya tidak tahu kalau kita berada di atasnya?” kata anak si kutu anjing tersebut. Tiba-tiba ibu si kutu anjing itu menendangnya dan terlemparlah ia dari tubuh anjing yang menjadi “induk semangnya”. Begitu terjatuh barulah ia menyadari bahwa anjing itu ukurannya sangat besar. Bahkan anak kutu jadi tahu, ternyata anjing sangat ditakuti oleh kucing.

Senin, 05 Desember 2011

Jadikan Pekarjaan Sebagai Hobi

by. Jamil Azzaini

Ketika Anda mengisi biodata pribadi kemudian ada pertanyaan “Hobi”, apa yang Anda isi? Kalau saya menulis hobi saya memberikan training, mengkader orang, menulis dan berbisnis. Bagi saya hobi atau kesenangan itu harus dilakukan setiap hari. Dengan melakukan hobi setiap hari hidup akan terasa lebih indah.

Tetapi sayang ada orang yang mengatakan, “Dulu saya memiliki hobi, akan tetapi sekarang sudah terlalu tua untuk melakukannya.”  Ada yang lain berujar, “Hobi hanyalah untuk anak-anak.”  Yang lebih menyedihkan adalah mereka yang berkomentar, “Bagaimana menjalankan hobi saya, pekerjaan akhir tahun sedang numpuk begini..”

Ternyata banyak orang yang tidak bisa menjalankan hobinya, banyak orang yang tidak mau menyenangkan dirinya. Hidup yang sebentar ini mari kita nikmati. Salah satunya dengan cara menjalankan hobi setiap hari. Agar hidup Anda tidak berantakan, jadikan hobi Anda juga menghasilkan sesuatu.

Jumat, 02 Desember 2011

Fokus dan Nikmati Pekerjaanmu

by. Andrie Wongso
 

Alkisah, ada seorang pianis yang sangat piawai memainkan tuts pianonya. Dia telah memenangi banyak kejuaraan dan telah menjalani pertunjukan di berbagai tempat. Tidak peduli penonton yang menyaksikan pertunjukkannya banyak atau sedikit, ataupun dia berhasil memenangkan pertadingan atau tidak, saat bermain piano, wajahnya tampak selalu berseri-seri, enjoy, seakan di sanalah letak segala kebahagiaannya.

Pada suatu hari, saat reuni dengan teman-teman lamanya, seorang sahabat bertanya kepadanya, "Kami perhatikan, saat bermain piano, kamu terlihat begitu senang dan bahagia. Sepertinya tidak ada kesusahan sama sekali!"

"Lho, hidup memang seharusnya dihadapi dengan senang kan?" jawabnya si pianis sambil tersenyum. Lalu ua melanjutkan, "Yah, kalian tahu kan bagaimana masa remajaku dulu. Begitu banyak hobi dan aktivitas yang aku geluti. Mulai dari menggambar, bermain musik, juga berbagai cabang olah raga. Ambisiku satu, yaitu ingin selalu menjadi juara di setiap lomba. Aku rajin berlatih dan berusaha, tetapi karena begitu banyak kegiatan, akhirnya tidak mampu berprestasi secara maksimal dan gagal. Kegagalan-kegagalan itu membuatku kecewa, marah, sedih, dan frustasi pada diri sendiri. Aku pun mulai malas-malasan dan kehilangan motivasi sehingga pelajaran di sekolah pun ikut jatuh."

Rabu, 30 November 2011

Kuliah dari Universitas Kehidupan

Ketika kerjamu tidak dihargai maka saat itu kau sedang belajar tentang ketulusan. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar keikhlasan.
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang memaafkan.
Ketika kau harus lelah dan kecewa , maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan.
Ketika kau merasa sepi dan sendiri maka saat itu kau sedang belajar tentang ketangguhan.
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kau sedang belajar tentang kemurah-hatian

Selasa, 29 November 2011

Kunci Bahagia

by. Jamil Azzaini

Orang Jawa mengatakan hidup itu sawang sinawang. Atau, dengan makna lain, seperti perumpamaan “rumput halaman tetangga lebih hijau dari rumput di halaman rumah sendiri”. Kisah berikut ini sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat mahasiswa ada yang berpikir, “Enak ya kalau sudah bekerja, bisa punya uang sendiri dan bisa beli ini itu.” Begitu sudah bekerja ia berpikir lagi, “Enak ya jadi pengusaha, waktunya bebas dan tidak harus pergi pagi-pagi.”

Senin, 28 November 2011

Akhirnya, terbukalah rahasia yang disimpan rapat sang suami selama 10 Tahun dari istrinya

Sepasang suami istri telah melewati masa pernikahan itu telah selama 5 tahun lebih, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Mulailah tetangga kanan kiri , termasuk saudaranya sendiri berbisik-bisik: “ Nikah udah lama, kenapa gak bisa hamil-hamil ya? Siapa yang mandul? Istrinya atau suaminya?”.

Karena seringnya mendengar gosip pahit dari tetangga kanan kiri, akhirnya sepasang suami tersebut secara diam diam melakukan pemeriksaan. Hasil lab menyebutkan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun, ini berarti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak. Mengetahui hasil pemeriksaan seperti itu, sang suami mengucapkan: "inna lillahi wa inna ilaihi raji’un"  lalu menyambungnya dengan ucapan: "Alhamdulillah". Sang suami berkata kepada sang dokter, “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong..., Anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah. Mendengar permintaan seperti itu, sang dokter menolak dan terheran-heran, "Saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda, itu terasa sulit bagi Saya.", mendengar jawaban seperti itu, kemudian sang Suami menimpali, "Saya tidak ingin melihat istri saya murung, bersedih, lalu akhirnya merasa putus asa dengan kondisinya." Karena terus dipaksa sang suami, akhirnya dokter pun setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Jumat, 25 November 2011

Kedamaian Hati

Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang Raja mengadakan sebuah sayembara. Dengan hadiah berupa emas yang sangat berharga kepada rakyat yang bisa melukis tentang "kedamaian". Saat diumumkan, banyak seniman dan pelukis mencoba mengikuti sayembara dan berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.

Waktu yang dijanjikan pun tiba. Baginda Raja datang ke tempat para seniman melukis dan berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Di antara sekian banyak lukisan, hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukai baginda Raja, yang dianggap mampu mewakili tema tentang kedamaian. Dan sang Raja harus memilih satu di antara keduanya.

Rabu, 23 November 2011

Rantai Pengikat Gajah


Ketika berkunjung ke sebuah kebun binatang, Larry terpesona dengan gajah yang sedang menikmati hangatnya sinar siang hari. Hewan besar dengan kekuatan super ini nampak begitu tenang di sana, di taman khusus untuk gajah, tanpa dikurung dalam kandang. Perhatian Larry kemudian terusik melihat tali yang mengikat gajah itu.

Ya, seutas tali. Larry heran, mengapa gajah sebesar ini hanya diikat dengan tali dan bukannya rantai? Dengan kondisi tanpa kandang demikian, tentu tidak sulit bagi gajah untuk memutuskan tali, membebaskan diri dan menyerang pengunjung. Namun nyatanya si gajah tampak baik-baik saja, tidak ingin melarikan diri dan belum pernah ada kabar gajah melepaskan diri dari kebun binatang ini.

Kebetulan di dekat situ ada petugas kebun binatang, yang ternyata juga trainer gajah tersebut. Terdorong rasa penasaran, Larry mendekatinya dan bertanya, mengapa hewan sebesar dan sekuat itu hanya diikat dengan tali dan apakah selama ini dia pernah memutuskan tali pengikatnya untuk membebaskan diri.

Senin, 21 November 2011

Bekerja Keras Tanpa Hasil

Cerita motivasi tentang bekerja keras tanpa hasil. Cerita ini fiktif, tapi hasil modifikasi dari kenyataan yang ada. Ceritanya begini: Ada seorang pemuda. Dia tertarik dengan balap sepeda. Setelah mengumpulkan uang, akhirnya dia mampu membeli sebuah sepeda balap.

Dengan senang hati, dia mencoba sepeda balap tersebut. Setelah beberapa hari mencoba, dia kecewa berat. Dia tidak bisa mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi. Bagaimana pun dia mengayuh, tetap saja sepeda berjalan dengan lambat. Akhirnya dia membawa sepeda tersebut ke tempat dimana dia membelinya.

“Pak, Anda menipu saya! Katanya ini sepeda balap, koq larinya lambat banget. Bahkan kalah oleh sepeda biasa.” katanya sambil marah-marah kepada penjual sepeda.

“Yang benar pak? Padahal pembalap nasional saja menggunakan sepeda seperti ini. Mereka bisa cepat koq?” kata penjual sepeda, keheranan.

“Buktinya? Saya sudah sekuat tenaga mengayuh, tetap saja lambat.” katanya menaikan nada suaranya.

“Mungkin ada yang rusak pak. Boleh saya periksa?” tanya penjual sepeda tetap tenang.

Kemudian dia memeriksa sepeda. Setelah beberapa saat dia berkata:

“Tidak ada yang rusak pak, kondisinya 100% .”

“Tapi.. kenyataannya? Sepeda itu lambat! Coba saja sendiri jika tidak percaya.” kata pemuda tersebut tetap pada nada tinggi.

“Baik pak, akan kami coba.” kata penjual sepeda sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mencoba sepeda tersebut.

Wussss…. setelah beberapa saat, sepeda itu melaju dengan kencangnya. Jelas saja membuat pemuda tadi bengong.

“Koq bisa yah?”, kata pemuda tadi bingung.

“Silahkan dicoba lagi. Saya mau lihat cara Anda membawa sepeda.” kata penjual sepeda sambil tersenyum lega, sebab sepedanya memang tidak apa-apa.

Pemuda tersebut mencoba mengayuh sepeda. Dia mencoba mengayuh dengan cepat dan sekuat tenaga. Memang benar, sepedanya tidak melaju dengan cepat. Usaha si pemuda mengayuh sepeda terlihat sia-sia karena sepedanya tidak juga melaju dengan cepat. Akhirnya, dengan badan penuh peluh, dia menghampiri penjual sepeda.

“Apa yang salah yah?”, katanya sambil tetap bingung.

Penjual sepeda tersenyum. Dia sudah menemukan dimana letak kesalahannya.

“Secepat apa pun Anda mengayuh, kecepatannya tidak naik dengan berarti jika Anda tetap di gigi satu.” kata penjual sepeda menjelasnya.

“Oh… jadi harus pindah gigi yah? Bagaimana caranya?”, kata pemuda tersebut sambil menahan malu. Mukanya merah padam. Jika tadi merah karena marah, sekarang merah karena malu.

***

Hikmah Cerita Motivasi Ini:
Mengapa pemuda tersebut hanya menggunakan gigi satu? Betul, karena dia menganggap sepeda itu hanya memiliki satu gigi. Bagaimana pun dia bekerja keras, dia tetap saja menyia-nyiakan potensi sepeda itu sebenarnya.

Begitu juga dengan kita. Kita akan bertidak sesuai dengan anggapan kita terhadap diri kita. Jika kita menganggap bahwa potensi kita hanya sebatas apa yang sudah kita dapatkan, mungkin kita juga menyia-nyiakan potensi diri kita sebenarnya.

Life is like a ten-speed bike. Most of us have gears we never use. ~Charles Schultz

Banyak yang bertanya kepada saya, “Bagaimana kita bisa menggunakan “gigi” yang lebih tinggi?”

Caranya ialah dengan meningkatkan percaya diri. Atau.. Anda tetap bekerja keras tanpa hasil. Mudah-mudahan, cerita motivasi ini bermanfaat bagi Anda.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com

Jumat, 18 November 2011

Senyum itu mudah & murah, lagi bermanfaat. Berikut ini adalah manfaat tersenyum, CEKIDOT !

Sudahkah anda tersenyum untuk hari ini? Senyum yang tulus, datang dari hati yang tulus, suatu senyum yang ikhlas dan menceriakan adalah suatu ibadah. Tersenyumlah! karena senyum itu tidak mahal. Senyum terjadi hanya sekejap, tetapi kenangannya kadang berlangsung selamanya.

1. Senyum membuat Anda lebih menarik.
Orang yg byk tersenyum memiliki daya tarik. Orang yg suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yg selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yg byk tersenyum memiliki byk teman.

2. Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik.
Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah..

3. Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia

4. Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.

5. Senyum meningkatkan imunitas.
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks.
Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.

6. Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.

7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit. 

8. Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot, Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift.
Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.

9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses
Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.

10. Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah


Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita, Senyum adalah ketenangan bagi kegelisahan, keceriaan bagi yang kecil hati dan kegembiraan bagi yang sedih. Senyum tidak bisa di beli, karena senyuman adalah sesuatu yang tidak berguna bagi siapapun sampai senyum itu diberikan. Jika kalian harus menemui seseorang yang terlalu letih untuk memberimu senyuman. Berikan satu senyuman yang tulus untuk mereka.

Karena tidak ada yang lebih membutuhkan senyuman daripada orang - orang yang tidak mempunyai senyuman lagi untuk diberikan. Sebuah senyuman akan selalu diterima, karena senyuman akan membuka pintu dan hati seperti anak kunci.
Berikan setiap senyummu untuk semua orang, karena satu senyuman memberikan keceriaan pada semua orang.

Selasa, 08 November 2011

Kisah Pohon Apel dan Anak Laki-laki

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orangtua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orangtua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orangtua kita.

Dari berbagai sumber...

Senin, 07 November 2011

Si Tukang Kayu dan Rumahnya


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah  perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut  pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan  penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
 
Dari berbagai sumber.

Jumat, 04 November 2011

Terima Kasih Ayah

sayang ayah
Tak ada kata yang pantas terucap untukmu ayah. Mungkin engkau bukan orang terdekat. Mungkin engkau juga bukan yang selalu berada disampingku, saat aku bahagia, kecewa bahkan saat aku bersedih hingga meneteskan air mata.
Saat anak-anak pergi sekolah dengan ayahnya yang juga pergi bekerja, kita tidak pernah melakukanya karena kau yang harus berangkat lebih dulu saat matahari belum menampakan cahayanya.
Saat anak-anak menunggu kepulangan ayahnya untuk bermain bersama, tidak dengan aku yang selalu terlelap saat menunggu kepulanganmu yang begitu larut. Andai dapat ku beli waktu kerjamu kala itu, aku rela membayarnya dengan uang jajanku untuk bisa bermain bersamamu.
Kita mungkin bukan pasangan yang baik. Kau sibuk dengan urusanmu, sedangkan aku bermain dengan semua khayalanku.
Saat aku mulai tumbuh besar, kita mulai punya waktu untuk bersama. Tapi bukan untuk bermain melainkan melakukan pekerjaan yang tidak aku inginkan. Seolah kau menindasku, aku jadi tidak suka denganmu. Aku membenci semua tentangmu. Kau marahi aku jika melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan maumu. Kau buat aku merasa lemah dengan ucapan-ucapan kasarmu. Ingin rasanya kau segera tiada dari duniaku, mengakhiri semua penderitaan dalam kehidupanku.
Pernah sekali aku menyalahkanmu atas apa yang terjadi dalam hidupku. Kusadari kau menangis saat ku terbangun sejenak dari tidur lelapku. Lama setelah itu, kupandangi wajahmu saat tertidur lelap, terbayang kerja keras yang kau lakukan untuk membesarkanku. Terbayang letih yang tersimpan dalam dirimu atas kerja keras yang kau lakukan untuk memenuhi kebutuhanku. Seakan tak tahu apa jadinya diri ini jika tanpa kehadiranmu. Tak ingin rasanya kehilanganmu dari sisiku.
Kini aku telah dewasa. Tumbuh menjadi seorang pemuda mandiri yang juga tidak dapat melupakan kasih sayang keluarganya. Kau ajarkan aku menjadi seorang yang siap menjalani kerasnya hidup tanpa melupakan kelembutan hati. Kau ajarkan padaku bagaimana menjadi pribadi yang kuat tanpa melupakan setiap orang punya kelemahan. Kau tanamkan padaku mencapai keberhasilan tanpa melupakan kalau setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Kau buat aku berdiri di jalan yang penuh dengan hambatan dan rintangan agarku dapat menaklukan kerasnya kehidupan. Kau jadikan aku sebagai seorang pemimpin yang sanggup memimpin dirinya sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Dan yang jauh lebih penting dari itu semua adalah kau membuat aku merasa bangga atas semua yang telah kau lakukan untukku.
Karena itulah, aku selalu berdoa ”semoga Tuhan selalu memberi yang terbaik untukmu”
Untuk setiap detak yang terjadi dalam nadi dan jantungku, hatiku berkata ”Terima Kasih Ayah”

 Sumber : http://www.resensi.net/ayah-terima-kasih/2011/10/

Gapailah Cita-cita dengan Menuliskannya

Smoga video berikut ini bermanfaat...